A reply 4 a message

Baru2 ini aku mendapat kritik dr seorang sahabat,

"An, jgn terlalu naif memandang sesuatu y! kadang km tu orangnya terlalu apatis namun pada saat yg sama terlalu positif menilai sesuatu. jangan keseringan menghindar dari sesuatu yg 'hitam' hanya krn km sibuk mencari sisi 'putih'-nya, krn paling2 yg nanti km temui justru hanya abu2"

itu bunyi salah satu sms yg kuterima darinya. dan kujawab dgn singkat saja: "hehehe...iya ta? I'll think 'bout it later! mo bo2 dl nie, ngantuk! zzZZzz".

And I do really think about it now! iyah, dia benar. iya, in some cases,  aku memang apatis,  males mikir yg macem2 yg aku anggap gak penting. jdnya  kadang cuek n gak pedulian! (just in some cases loo :P)

menghindar dari sesuatu yg "hitam"?? hehehe..mgkn itu analogi yg dia pake utk sekedar bilang, jgn suka lari dari masalah! :D Dan skali lagi dia mungkin benar. Aku lebih suka berpikir dan mencari2 celah knapa hal yg 'tak menyenangkan' itu terjadi daripada menghadapinya langsung. muter2 mikir, sampai pada titik mengambil kesimpulan sendiri, aahh...biarin ajalah! pasti ada alasan dibalik semua kejadian. sesuatu menjadi 'negatif' or 'positif' kan tergantung kita yg menilainya. dan memang, aku lebih suka mencari sisi2 'positif'nya daripada menyiapkan 'keberanian' diri utk menghadapi  sisi negatifnya!

alasannya simple aja sebenarnya. males n capek! klo smua mua hal mesti aku telaah satu persatu, dimasukin ati, diliat sisi negatifnya, ndengerin sana sini, ngikutin perasaan,  bisa edan sendiri aku!

tiap orang hidup pasti punya masalah, dgn berbagai macam jenis dan bentuk, pun dgn standar yg berbeda dalam menghadapi 'n mencari solusinya. barangkali aku cmn meminimalisir apa-apa yg aku definisikan sbg 'masalah', tanpa bermaksut lari darinya. (ngeles mode ON :D) Lha wong berusaha diminimalisir aja udah puyeng gak karuan gini! hwehehehe

However, I got your point mate! ada kejadian hari ini yg memberiku pelajaran. A bit reflection for me today, "Keeps thinking positive, but always prepare for the worst!" coz 'black' really does exist, next to white and grey. Well, its funny how from simple thing I got such a 'great' lesson!
(^_^)

=======

nb:  See....?? I intend to reply your message! hehehe :P

                            

Changes????

You might said that the only constant is change.
Change is inevitable, adapting to change is unavoidable.
Well, the world (including me!) hates change! Yet it is the only thing that has brought progress :(

Dealing with changes? never gonna be that easy!

hmm..
It’s supposed to be easy, once I thought
But never thought gonna be this hard
I hate those moments, these kind of feelings
But I'm gonna be just fine soon
I hope....

Coz if nothing ever changed, there'd be no butterflies :)

konsentrasi non!!!!!

Biasanya disambi kerja, ngerjain tesis lancar2 aja. Ini udah gak kerja kok malah gak bs ngerjain tesis juga! Payyyaaaaaaaaaah!! Reading journal cmn lewat aja, scrolling up down up down, ni mata ngikutin ke atas ke bawah ke atas ke bawah,pi kok gak ada yg nyantol!!

Yawdah..ngeblog aja lah! huehehehe...

yuhuui….its been a year!!

duuh… gak krasa dah setaun lebih 11 hari aku di Melbourne!!

I love this city from the very first time! cz sbnrnya ni bkn pertama kalinya jg aku ke kota ini.

hmmm….. g trasa jg sudah banyak hal yg telah aku lewati selama di sini

 

seneng krn pny byk temen2 baru

pi sedih krn jauh dari kluarga

enjoy ma jalan2 n having fun

pi suntuk ma tugas2 kuliahnya

 

krasan bgt tinggal di kota yg super nyaman ini

pi tetep, kangeeeeen pengen pulang ke Indo

 

intinya…

nano2 dech!!

pastinya, membuat hidup  jauh lebih berwarna….. ^_^

my little princess....

Tete…

Kok tete anna lama gak puyang2 seh te? 

Putri kangen ma tete

Rumahnya tete skrg jauh ya sama rumah Putri? 

Putri skrg udah gak nakal lho te!“

Gak nangisan

Udah gak marah2 sama mama

gak pernah mukul2 mama kok

jadi…

jadi... 

putri boleh ya nantik maen ke rumahnya tete anna?“

putri brani kok te naek pesawat

“tete anna skrg ndek dalem pesawat tah?? “

pokoknya nanti… nanti, kalo tete anna punya rumah baru, putri ikut pindah ya te? “

“boleh ya te??”

“ntik putri belajar sama tete anna yoo?”

=====================


 

hmmm....

a small morning chat with my little princess, yesterday....

 

ada yg aneh dgn telp itu.

biasanya... dia cmn ndengerin tantenya ini bicara n baru jawab sekenanya.

tp kmrn dgn lancarnya dia pny inisiatif ngomong sendiri, mengeluarkan patahan2 kalimat itu sendiri

ntah ada ide dr mana dia ucapkan satu persatu kata2 itu

membuatku hanya terpana dan terpaku mendengar suara mungilnya itu

 

ooh God...!! miss her a lot!!


S4024694

 


“iya sayang..... tete anna juga kuangen banget sama putri.....”

Gunung Jangan Pula Meletus

Sebuah puisi lama karya Emha Ainun Nadjib. namun masih menarik sebagai bahan renungan......

=====================

Gunung Jangan Pula Meletus

oleh: Emha Ainun Nadjib

KHUSUS untuk bencana Aceh, saya terpaksa menemui Kiai Sudrun. Apakah kata mampu mengucapkan kedahsyatannya? Apakah sastra mampu menuturkan kedalaman dukanya? Apakah ilmu sanggup menemukan dan menghitung nilai-nilai kandungannya?

Wajah Sudrun yang buruk dengan air liur yang selalu mengalir pelan dari salah satu sudut bibirnya hampir membuatku marah. Karena tak bisa kubedakan apakah ia sedang berduka atau tidak. Sebab, barang siapa tidak berduka oleh ngerinya bencana itu dan oleh kesengsaraan para korban yang jiwanya luluh lantak terkeping- keping, akan kubunuh.

"Jakarta jauh lebih pantas mendapat bencana itu dibanding Aceh!," aku menyerbu.

"Kamu juga tak kalah pantas memperoleh kehancuran," Sudrun menyambut dengan kata- kata yang, seperti biasa, menyakitkan hati.

"Jadi, kenapa Aceh, bukan aku dan Jakarta?"

"Karena kalian berjodoh dengan kebusukan dunia, sedang rakyat Aceh dinikahkan dengan surga."

"Orang Aceh-lah yang selama bertahun-tahun terakhir amat dan paling menderita dibanding kita senegara, kenapa masih ditenggelamkan ke kubangan kesengsaraan sedalam itu?"

"Penderitaan adalah setoran termahal dari manusia kepada Tuhannya sehingga derajat orang Aceh ditinggikan, sementara kalian ditinggalkan untuk terus menjalani kerendahan."

"Termasuk Kiai...."

Cuh! Ludahnya melompat menciprati mukaku. Sudah biasa begini. Sejak dahulu kala. Kuusap dengan kesabaran.

"Kalau itu hukuman, apa salah mereka? Kalau itu peringatan, kenapa tidak kepada gerombolan maling dan koruptor di Jakarta? Kalau itu ujian, apa Tuhan masih kurang kenyang melihat kebingungan dan ketakutan rakyat Aceh selama ini, di tengah perang politik dan militer tak berkesudahan?"

Sudrun tertawa terkekeh-kekeh. Tidak kumengerti apa yang lucu dari kata-kataku. Badannya terguncang-guncang.

"Kamu mempersoalkan Tuhan? Mempertanyakan tindakan Tuhan? Mempersalahkan ketidakadilan Tuhan?" katanya.

Aku menjawab tegas, "Ya."

"Kalau Tuhan diam saja bagaimana?"

"Akan terus kupertanyakan. Dan aku tahu seluruh bangsa Indonesia akan terus mempertanyakan."

"Sampai kapan?"

"Sampai kapan pun!"

"Sampai mati?"

"Ya!"

"Kapan kamu mati?"

"Gila!"

"Kamu yang gila. Kurang waras akalmu. Lebih baik kamu mempertanyakan kenapa ilmumu sampai tidak mengetahui akan ada gempa di Aceh. Kamu bahkan tidak tahu apa yang akan kamu katakan sendiri lima menit mendatang. Kamu juga tidak tahu berapa jumlah bulu ketiakmu. Kamu pengecut. Untuk apa mempertanyakan tindakan Tuhan. Kenapa kamu tidak melawanNya. Kenapa kamu memberontak secara tegas kepada Tuhan. Kami menyingkir dari bumiNya, pindah dari alam semestaNya, kemudian kamu tabuh genderang perang menantangNya!"

""Aku ini, Kiai!" teriakku, "datang kemari, untuk merundingkan hal-hal yang bisa menghindarkanku dari tindakan menuduh Tuhan adalah diktator dan otoriter...."

Sudrun malah melompat- lompat. Yang tertawa sekarang seluruh tubuhnya. Bibirnya melebar-lebar ke kiri-kanan mengejekku.

"Kamu jahat," katanya, "karena ingin menghindar dari kewajiban."

"Kewajiban apa?"

"Kewajiban ilmiah untuk mengakui bahwa Tuhan itu diktator dan otoriter. Kewajiban untuk mengakuinya, menemukan logikanya, lalu belajar menerimanya, dan akhirnya memperoleh kenikmatan mengikhlaskannya. Tuhan-lah satu-satunya yang ada, yang berhak bersikap diktator dan otoriter, sebagaimana pelukis berhak menyayang lukisannya atau merobek-robek dan mencampakkannya ke tempat sampah. Tuhan tidak berkewajiban apa- apa karena ia tidak berutang kepada siapa-siapa, dan keberadaanNya tidak atas saham dan andil siapa pun. Tuhan tidak terikat oleh baik buruk karena justru Dialah yang menciptakan baik buruk. Tuhan tidak harus patuh kepada benar atau salah, karena benar dan salah yang harus taat kepadaNya. Ainun, Ainun, apa yang kamu lakukan ini? Sini, sini..."-ia meraih lengan saya dan menyeret ke tembok-"Kupinjamkan dinding ini kepadamu...."

"Apa maksud Kiai?," aku tidak paham.

"Pakailah sesukamu."

"Emang untuk apa?"

"Misalnya untuk membenturkan kepalamu...."

"Sinting!"

"Membenturkan kepala ke tembok adalah tahap awal pembelajaran yang terbaik untuk cara berpikir yang kau tempuh."

Ia membawaku duduk kembali.

"Atau kamu saja yang jadi Tuhan, dan kamu atur nasib terbaik untuk manusia menurut pertimbanganmu?," ia pegang bagian atas bajuku.

"Kamu tahu Muhammad?", ia meneruskan, "Tahu? Muhammad Rasulullah shallallahu 'alaihi wa alihi wasallah, tahu? Ia manusia mutiara yang memilih hidup sebagai orang jelata. Tidak pernah makan kenyang lebih dari tiga hari, karena sesudah hari kedua ia tak punya makanan lagi. Ia menjahit bajunya sendiri dan menambal sandalnya sendiri. Panjang rumahnya 4,80 cm, lebar 4,62 cm. Ia manusia yang paling dicintai Tuhan dan paling mencintai Tuhan, tetapi oleh Tuhan orang kampung Thaif diizinkan melemparinya dengan batu yang membuat jidatnya berdarah. Ia bahkan dibiarkan oleh Tuhan sakit sangat panas badan oleh racun Zaenab wanita Yahudi. Cucunya yang pertama diizinkan Tuhan mati diracun istrinya sendiri. Dan cucunya yang kedua dibiarkan oleh Tuhan dipenggal kepalanya kemudian kepala itu diseret dengan kuda sejauh ratusan kilometer sehingga ada dua kuburannya. Muhammad dijamin surganya, tetapi ia selalu takut kepada Tuhan sehingga menangis di setiap sujudnya. Sedangkan kalian yang pekerja
annya mencuri, kelakuannya penuh kerendahan budaya, yang politik kalian busuk, perhatian kalian kepada Tuhan setengah-setengah, menginginkan nasib lebih enak dibanding Muhammad? Dan kalau kalian ditimpa bencana, Tuhan yang kalian salahkan?"

Tangan Sudrun mendorong badan saya keras-keras sehingga saya jatuh ke belakang.

"Kiai," kata saya agak pelan, "Aku ingin mempertahankan keyakinan bahwa icon utama eksistensi Tuhan adalah sifat Rahman dan Rahim...."

"Sangat benar demikian," jawabnya, "Apa yang membuatmu tidak yakin?"

"Ya Aceh itu, Kiai, Aceh.... Untuk Aceh-lah aku bersedia Kiai ludahi."

"Aku tidak meludahimu. Yang terjadi bukan aku meludahimu. Yang terjadi adalah bahwa kamu pantas diludahi."

"Terserah Kiai, asal Rahman Rahim itu...."

"Rahman cinta meluas, Rahim cinta mendalam. Rahman cinta sosial, Rahim cinta lubuk hati. Kenapa?"

"Aceh, Kiai, Aceh."

"Rahman menjilat Aceh dari lautan, Rahim mengisap Aceh dari bawah bumi. Manusia yang mulia dan paling beruntung adalah yang segera dipisahkan oleh Tuhan dari dunia. Ribuan malaikat mengangkut mereka langsung ke surga dengan rumah-rumah cahaya yang telah tersedia. Kepada saudara- saudara mereka yang ditinggalkan, porak poranda kampung dan kota mereka adalah medan pendadaran total bagi kebesaran kepribadian manusia Aceh, karena sesudah ini Tuhan menolong mereka untuk bangkit dan menemukan kembali kependekaran mereka. Kejadian tersebut dibikin sedahsyat itu sehingga mengatasi segala tema Aceh Indonesia yang menyengsarakan mereka selama ini. Rakyat Aceh dan Indonesia kini terbebas dari blok-blok psikologis yang memenjarakan mereka selama ini, karena air mata dan duka mereka menyatu, sehingga akan lahir keputusan dan perubahan sejarah yang melapangkan kedua pihak".

"Tetapi terlalu mengerikan, Kiai, dan kesengsaraan para korban sukar dibayangkan akan mampu tertanggungkan."

"Dunia bukan tempat utama pementasan manusia. Kalau bagimu orang yang tidak mati adalah selamat sehingga yang mati kamu sebut tidak selamat, buang dulu Tuhan dan akhirat dari konsep nilai hidupmu. Kalau bagimu rumah tidak ambruk, harta tidak sirna, dan nyawa tidak melayang, itulah kebaikan; sementara yang sebaliknya adalah keburukan- berhentilah memprotes Tuhan, karena toh Tuhan tak berlaku di dalam skala berpikirmu, karena bagimu kehidupan berhenti ketika kamu mati."

"Tetapi kenapa Tuhan mengambil hamba-hambaNya yang tak berdosa, sementara membiarkan para penjahat negara dan pencoleng masyarakat hidup nikmat sejahtera?"

"Mungkin Tuhan tidak puas kalau keberadaan para pencoleng itu di neraka kelak tidak terlalu lama. Jadi dibiarkan dulu mereka memperbanyak dosa dan kebodohannya. Bukankah cukup banyak tokoh negerimu yang baik yang justru Tuhan bersegera mengambilnya, sementara yang kamu doakan agar cepat mati karena luar biasa jahatnya kepada rakyatnya malah panjang umurnya?"

"Gusti Gung Binathoro!," saya mengeluh, "Kami semua dan saya sendiri, Kiai, tidaklah memiliki kecanggihan dan ketajaman berpikir setakaran dengan yang disuguhkan oleh perilaku Tuhan."

"Kamu jangan tiba-tiba seperti tidak pernah tahu bagaimana pola perilaku Tuhan. Kalau hati manusia berpenyakit, dan ia membiarkan terus penyakit itu sehingga politiknya memuakkan, ekonominya nggraras dan kebudayaannya penuh penghinaan atas martabat diri manusia sendiri-maka Tuhan justru menambahi penyakit itu, sambil menunggu mereka dengan bencana yang sejati yang jauh lebih dahsyat. Yang di Aceh bukan bencana pada pandangan Tuhan. Itu adalah pemuliaan bagi mereka yang nyawanya diambil malaikat, serta pencerahan dan pembangkitan bagi yang masih dibiarkan hidup."

"Bagi kami yang awam, semua itu tetap tampak sebagai ketidakadilan...."

"Alangkah dungunya kamu!" Sudrun membentak, "Sedangkan ayam menjadi riang hatinya dan bersyukur jika ia disembelih untuk kenikmatan manusia meski ayam tidak memiliki kesadaran untuk mengetahui, ia sedang riang dan bersyukur."

"Jadi, para koruptor dan penindas rakyat tetap aman sejahtera hidupnya?"

"Sampai siang ini, ya. Sebenarnya Tuhan masih sayang kepada mereka sehingga selama satu dua bulan terakhir ini diberi peringatan berturut-turut, baik berupa bencana alam, teknologi dan manusia, dengan frekuensi jauh lebih tinggi dibanding bulan-bulan sebelumnya. Tetapi, karena itu semua tidak menjadi pelajaran, mungkin itu menjadikan Tuhan mengambil keputusan untuk memberi peringatan dalam bentuk lebih dahsyat. Kalau kedahsyatan Aceh belum mengguncangkan jiwa Jakarta untuk mulai belajar menundukkan muka, ada kemungkinan...."

"Jangan pula gunung akan meletus, Kiai!" aku memotong, karena ngeri membayangkan lanjutan kalimat Sudrun.

"Bilang sendiri sana sama gunung!" ujar Sudrun sambil berdiri dan ngeloyor meninggalkan saya.

"Kiai!" aku meloncat mendekatinya, "Tolong katakan kepada Tuhan agar beristirahat sebentar dari menakdirkan bencana-bencana alam...."

"Kenapa kau sebut bencana alam? Kalau yang kau salahkan adalah Tuhan, kenapa tak kau pakai istilah bencana Tuhan?"

Sudrun benar-benar tak bisa kutahan. Lari menghilang.

Tanah Airku..........

Sedih....
Prihatin....

Beberapa hari mendengar dan membaca kabar dari tanah air tercinta yang selalu dirundung duka. Derita Saudara kita yang tak lepas dari bencana alam banjir, tanah longsor, gempa, lumpur…..

Ada berita menyedihkan tentang seorang Ibu hamil dan putranya yang meninggal dengan tragis.  Diare akut karena kelaparan telah merenggut nyawa mereka. Ny. Basse dan putranya meninggal  setelah tiga hari tidak pernah menelan sebutir nasipun!! Mereka, yang bertahan dengan penghasilan 5-10rb rupiah perhari. Mereka, yang kalau makan kuahnya memakai minyak bekas penggorengan. Mereka, yang  hanya makan garam karena tidak punya uang untuk beli ikan. Mereka, yang dalam rumah sederhananya sering terdengar tangisan anak bersahut2an.
Saat membaca berita itu aku hanya tertegun sambil bertanya-tanya, Indonesia?? KELAPARAN?? Sudah separah itukah???

Hari ini kembali membaca sebuah berita yang tak kalah memilukan. “Karena LAPAR, anak pintar itu bunuh diri” Oooh!!! Seorang bocah bernama Teguh, nekat mengakhiri hidupnya dengan menggantung diri, karena tak kuat menahan sakit maag akut, lagi-lagi, karena KELAPARAN!!! Dia, seorang bocah yang  hidup dalam kemiskinan, diasuh seorang nenek yang memiliki keterbatasan penglihatan. Dia yang kerap berperang melawan sakit diperutnya. Dia yang tergolong siswa cukup pintar di kelasnya, akhirnya tak tahan dengan semua derita itu, memilih mengakhiri rasa sakit dan kemiskinan itu dengan caranya sendiri!!
Kali ini aku tertegun lebih lama, tak terasa air mata inipun menetes….

Aaaaaagh….. aku jadi sungguh malu pada diriku sendiri. Baru menghadapi keruwetan seputar kuliah saja sudah nyaris putus asa. Ada masalah datang selalu disambut dengan keluhan. Diberi sedikit cobaan hidup, sudah berani mempertanyakan di mana letak keadilan Tuhan??
Sementara aku, aku hidup dalam keluarga bahagia yang meski tak kaya tapi juga tak kekurangan. Aku yang tiap hari selalu punya cukup makanan di meja makan. Aku yang begitu beruntung telah mempunyai pekerjaan tetap. Aku yang lebih beruntung lagi mendapat kesempatan sekolah lagi di negeri ini. Aku yang selalu punya orang-orang yang menyayangiku disekelilingku. Aku, aku seharusnya tak pantas mengeluh apalagi sampai putus asa!!! Sungguh tak pantas.....

Tak lagi aku bertanya-tanya benarkah di tanah air sana ada kelaparan?? karena memang begitulah faktanya...
Sudah separah itukah?? PASTI!! masih banyak bbrp Ny. Basse lain di negeri kita, pun Teguh Teguh yang lain yg sedang berjuang untuk hidup saat ini
Negaraku yang katanya negara agraris itu tak mungkin kekurangan pangan klo saja para para penguasanya sedikit lebih punya hati
Kalau saja para penguasa itu tidak ribut untuk memperkaya diri sendiri
Kalau saya mereka tidak cukup angkuh dan bangga berfoya-foya di atas uang rakyat
Kalau saja para penguasa itu mampu membuat kebijakan yang berpihak pada rakyat miskin
Kalau saja kebijakan impor diubah, standar hidup petani meningkat, diversifikasi pangan, aaaaachhhh!!!!

Tidak... tidak...
Itu terlalu jauh....
Aku sudah cukup skeptis, pesimis dan muak dengan tingkah laku para penguasa itu!!
ada koruptor bebas berkuasa, ada suap di kasus BLBI, bukan berita baru..... huuuuugh!!!!!

Lantas, apakah cukup dengan sedih, cukup dengan prihatin melihat fenomena ini??
Tentunya saja tidak cukup....
Sepeti kata seorang kawan, "Meski kami tidak mengerti bagaimana melakukan sesuatu yang besar untuk bangsa kami, setidaknya tunjukkanlah kami kesempatan-kesempatan kecil setiap harinya.." Mari sedikit menengadahkan tangan untuk tanah air kita. Mulai menoleh kanan kiri adakah Saudara kita yang sedang membutuhkan bantuan. Dan tentunya sedikit menyisihkan penghasilan kita buat mereka akan menjadi sesuatu yang sangat berarti untuk mereka. Tak usah terlalu sibuk mencari siapa yang salah dari semua ini, karena sudah tak ada waktu. Mereka sedang menunggu, menunggu uluran tangan kita! Mari... jangan sampai ada Ny. Basse-Ny. Basse atau Teguh Teguh yang lain kembali menghentak nurani kita.

Sementara itu, bolehlah kita terus berharap bahwa negara kita akan berubah. Bahwa para penguasa itu akan sadar akan dosa-dosa mereka.
Apakah aku pemimpi?? Tak apalah bermimpi dan berharap, krn hanya dgn itu kita bisa terus bertahan.

".....u might say I'm a dreamer, but I'm not the only one...."

Silence is....


Silence is an absence

Silence is profound

Silence is a conversation

Being had without sound

Silence is an expression

One that cannot be heard

Silence cannot be spoken

Although it is a word

Silence is a presence

Of great nothingness

Silence can be something

And yet cease to exist

Silence can fill a room

And have no mass at all

Silence cannot be dropped, yet it can fall

Silence is a mystery

That will forever go unsolved

Silence is how every sound can swiftly be dissolved

Silence is the sound of rest

The only sound that can sound best

While other sounds can cause great pain

Silence is not the sound to blame

For Silence is what silence is

Something that is nothing

Nothing that exists

....

.

.

....

nb :

thanks God I still have my ‘sunshine’ to light me up in the darkness of my silence...^_^

Selamat Idul Fitri

selamat idul fitri, BUMI
maafkanlah kami
selama ini
tidak semena-mena
kami memerkosamu

selamat idul fitri, LANGIT
maafkanlah kami
selama ini
tidak henti-hentinya
kami mengelabukanmu

selamat idul fitri, MENTARI
maafkanlah kami
selama ini
tidak bosan-bosan
kami mengaburkanmu

selamat idul fitri, LAUT
maafkanlah kami
selama ini
tidak segan-segan
kami mengeruhkanmu

selamat idul fitri, BURUNG-BURUNG
maafkanlah kami
selama ini
tidak putus-putus
kami membrangusmu

selamat idul fitri, TETUMBUHAN
maafkanlah kami
selama ini
tidak puas-puas
kami menebasmu

selamat idul fitri, PARA PEMIMPIN
maafkanlah kami
selama ini
tidak habis-habis
kami membiarkanmu

selamat idul fitri, RAKYAT
maafkanlah kami
selama ini
tidak sudah-sudah
kami mempergunakanmu


-A.Mustofa Bisri-

Dunia..oh..dunia

" Dunia ini panggung sandiwara, ceritanya mudah berubah...... "

sesaat yg lalu,
dunia terasa tak lebih hanya sekedar lelucon yg kejam
satu momen yg mampu membuat jatuh
terpuruk di lembah yang paling dasar dan dalam
menangis.... percuma!

dan skrg tiba2 sudah berubah lagi,
dunia menjadi bak cerita dongeng yang indah
mampu kembali mengangkat tinggi
nyaris menyentuh nirwana, dunia mimpi
tersenyum, tertawa ....

bgmn dengan esok??

we never know..........


tp ini kan hanya dunia saya, dunia Anda barangkali lebih indah dan berwarna ^_^